Sebut saja, Dede Wiratmadinata, niatnya
untuk memperkenalkan kembali jajanan tradisional Sunda kepada
masyarakat, diwujudkannya dengan membuka sebuah outlet kecil jajanan
Sunda jaman baheula di Bali Heaven, Jalan Pasir Kaliki, Bandung.
Terinspirasi dari Amerika Latin yang
memiliki pasar tradisional yang mengangkat tema daerah masing-masing,
Dede kemudian mencoba mengadaptasinya dengan berjualan jajanan
tradisonal di tengah maraknya jajanan modern di Indonesia.
“Saya pikir kenapa di Sunda tidak bisa
seperti di sana (Amerika Latin-red). Padahal jajanan sunda itu lebih
kaya, lebih beragam, dan rasanya lebih lezat,” cerita Dede dengan
antusias kepada detikbandung.
Tujuan Dede tak lain ingin menjaga
warisan leluhur. Dede menginginkan jangan sampai generasi muda melupakan
kekayaan jajanan sunda yang kini sudah nyaris tak dilirik.
“Saya ingin anak muda tahu, kalau sunda itu punya makanan unik. Rasanya juga tidak kalah enak dari yang modern,” tegasnya.
Ada sekitar 26 macam jajanan jadul yang
dijual Dede, di antaranya permen Kayu, angleng, jitdong, gulali kacang,
jipang emping, noga, tengteng, sagon, aromanis dan masih banyak jajanan
jadul lainnya.
“Dari sekian banyak itu, yang best seller angleng sama gulali,” terang Dede.
Rasa angleng memang khas, dibuat dari
tepung beras ketan, bentuknya mirip wajit atau dodol yang dibalut dengan
daun. “Tapi ini rasanya tidak terlalu manis seperti dodol, kalau kata
orang sunda mah teu giung,” jelas Dede.
Jajanan jadul ini dibanderol dengan
harga murah, mulai dari Rp 1.000. Dengan uang 5 ribu sudah bisa membawa
pulang lebih dari 3 jenis jajanan jadul tersebut. Di antara deretan
nama-nama makanan jadul di atas, salah satunya pasti jadi jajanan
favorit saat masih kecil dulu, ya kan?